Posted by: lingkaransmile | July 18, 2009

apa jadinya

hmm..
apa ya yang kan terjadi
kalo aku jadi istri anak pa yai
yang sukanya lagu2 religi
sementara aku lebih suka gigi
atau lagu2 nge-beat dari luar negri

apa jadinya ya
kalo dia juga akhirnya suka
karna dia cinta
aku sepenuh hatinya

tapi, apa kan terjadi
mimpi ibu tuk aku jadi istri anak pa yai??

Ah, andai kubisa menawar
aku pilih anak pa yai yang gaul dan pintar
ilmu segala hal dan hobi apapun agar
semua bunga dihatiku tersenyum mekar

Serua, 290609

Posted by: lingkaransmile | July 9, 2009

lima sepuluh

metromini

lima sepuluh

lima sepuluh, Ciputat-Rambutan

selalu penuh dengan peluh dan keluhan

tak pandang laki-laki perempuan

colek sana, colek sini

copet sana, copet sini

jadi ajang kesempatan pengais keuntungan

lima sepuluh, Ciputat-Rambutan

selalu terkenang,

tempat yang tepat uji kesabaran, keihlasan

entah sampai kapan..

Ciputat, 5 Juli 2009

Posted by: lingkaransmile | March 3, 2009

Perempuan Rumah Kenangan

pr1

        

Perempuan Rumah Kenangan

 

Perempuan Rumah Kenangan, sebuah novel bertemakan tentang kekaguman seorang lelaki akan perempuan yang pernah menjambangi rumah jiwanya. Mereka adalah: Neneknya, Ibunya, seseorang perempuan yang pernah menghiasi hari-harinya, dan hujan yang ia bayangkan sebagai anak perempuan kecil yang selalu bersedih dan menangis, andai saja ia dapat menghibur si kecil ini.. adalah kebahagiaan tak terhingga.

 

M Aan Mansyur mengemas cerita dengan hangat. Ia sangat lihai memilih kiasan untuk sebuah keadaan dan perasaan. Diksi yang berwarna membuat pembaca nggak akan merasa bosan mengikuti alur cerita.

 

“I write fiction and i’m told it’s autobiography, I write autobiography and I’m told it’s fiction, so since I’m so dim and they’re so smart, let them decide what it is or it isn’t”.

 

Dengan pepatah dari Philip Roth ini M Aan Mansyur memulai novel karyanya. Setelah membaca keseluruhan novel ini, saya mencoba menelusuri beberapa catatan mengenai identitas novelis ini, dan akhirnya saya bisa memahami mengapa dia begitu berpegang dengan pepatah dia atas, hingga meletakkannya sebagai kalimat pembuka.

 

Baca novel ini mengingatkanku pada beberapa orang yang pernah hadir dalam kehidupanku, mereka adalah:

-          kedua ortuku, ummy dan buyya, lambang cinta yang tak lekang oleh masa.

-          nenekku, yang selalu membekaliku jajan tiap kali ku menjenguknya di tiap minggu, membuat tabungan sekolah TK-ku jadi penuh dengan coretan nilai rupiah, meski aku lupa seberapa dalam yang kurasakan saat ia membelai atau mengecup keningku, ataupun jika memang tak pernah kudapatkan.

-          Pa guru dan bu guruku di SMP dulu, yang masih bertahan dengan status lajangnya hingga kini walau sudah lewati setengah abad usia.

-          Seorang teman perempuanku, yang lebih senang dengan panggilan “Endah”.

-          Tiga teman laki-lakiku yang secara tidak diduga “ada” dalam kemasan novel ini, terutama pada kepribadian sang tokoh utama:

1.      seorang romantis yang tak pernah habis oleh inspirasi dan kreatifitas menulis

2.      seorang diver yang sangat menyadari pengalaman hidupnya di masa jahiliyah dan masa hijrah

3.      seorang entrepreneur yang gila hidup oleh semangat, dengan nama panggilan “Ian” di masa kecilnya.

Mereka semua adalah bunga-bunga yang pernah menghiasi rumah jiwaku, pepohonan yang menyejukkan.

 

Ini adalah kado ultah yang paling berkesan di tahun 2009. Tidak ada yang bisa kubuktikan sebagai rasa syukurku pada penulis novel ini selain ucap terima kasih dan goodluck! J

 

Jakarta, 14 Februari 2009

Posted by: lingkaransmile | February 3, 2009

TOLERANSI

alq1

TOLERANSI

[Kesan saya setelah membaca buku Zuhairi Misrawi, Alquran Kitab Toleransi]

 

Sajian pembuka yang menarik

Ada yang menarik ketika membaca buku Zuhairi Misrawi, Alquran Kitab Toleransi. Pada bagian awal disebutkan bahwa penulis pernah bertatap muka dengan empat pemuka agama yang notabenenya adalah non muslim, mereka adalah: Milad Hanna (seorang Kristen Koptik; Guru Besar Ilmu Tehnik, aktifis HAM dan tokoh penggiat dialog antar agama di Mesir), Dr. Youhanna Qaltah (seorang Uskup Agung Kristen Katolik di Mesir), Romo Franz Magnis Suseno, dan Pendeta Martin Lukito Sinaga.

Salah satu dari mereka yang menarik adalah Yohanna Qalthah, seorang pendeta Katolik Mesir ketika berdiskusi masalah keagamaan dengan penulis. Pada pertengahan perbincangan tiba-tiba suara adzan bergema, lantas pendeta tersebut dengan penuh rasa hormat mempersilakan penulis untuk melaksanakan shalat saat itu juga.

“Akhi Zuhair, adzan telah berkumandang. Silakan ambil wudhu di sebelah samping kanan gereja. Silakan laksanakan shalat. Ini sajadahnya. Arah kiblat agak miring ke kanan”

Betapa rasa toleransi itu muncul tanpa diduga. Bahkan bukan penulis yang meminta undur diri untuk melaksanakan shalat -memenuhi kewajiban keagamaannya sebagai musllim, melainkan sang Pendetalah yang terlebih dahulu mempersilakannya. Dan bukan berarti mengusir.

Sebenarnya toleransi bukanlah sesuatu yang aneh, jika sifat itu ditanamkan dengan baik pada setiap individu beragama. Karena tidak dipungkiri –terbukti dari diskusi dan perbincangan penulis dengan keempat tokoh di atas- kita dapat mengambil benang merah bahwa setiap ajaran keagamaan memiliki salah satu misi yang sama, yaitu terciptanya kedamaian dan ketentraman hidup, diantaranya adalah dengan memberikan pengertian kepada tiap umatnya untuk bertoleransi dengan sesama manusia, tanpa membedakan ras, suku, jenis kelamin, bahkan agama.

Sebagaimana terlihat dari definisi agama itu sendiri yang berasal dari dua suku kata, a dan gama. A berarti tidak, dan gama berarti kacau. Dengan demikian agama memang muncul dalam rangka mengarah pada sebuah pedoman untuk kesejahteraan hidup. Kebalikan dari kacau tentunya.

Toleransi antarumat beragama terkadang disalahartikan oleh sebagian orang sebagai suatu pelegalan adanya keberagaman dalam memilih suatu pandangan hidup. Ini terjadi karena adanya budaya merasa paling benar (truth claim) dengan cara mengeliminasi kebenaran dari orang lain. Manusia diberi kelebihan untuk memahami dan menafsirkan wahyu Tuhan, mereka kerap kali menyalahgunakan kesempatan ini dengan mengatasnamakan dirinya sebagai Tuhan, Sang Pencipta wahyu itu sendiri, sehingga seolah dosa, pahala, surga dan neraka serta kebenaran hanya bisa ditentukan oleh dirinya, sementara keyakinan yang berbeda dengan pendapatnya adalah sesat dan wajib dimusuhi.

Fanatisme umat yang lebih mengedepankan satu kebenaran dari pedoman yang mereka pegang, tanpa menilik masalah dari berbagai dimensi ini memicu hilangnya toleransi dalam kehidupan beragama. Di satu sisi memang manusia selayaknya berpegang pada satu ajaran, namun pada sisi lain individu yang variatif menuntut kita untuk bisa memberikan hak dari adanya variasi tersebut, sehingga walau bagaimanapun, pluralitas agama bukanlah sesuatu yang menjadi kendala untuk mewujudkan toleransi.

Kalau boleh saya berkelakar sebagai seorang muslim, bukankah “tidak ada paksaan dalam agama”?! (Al-baqarah [2]: 256), dan bukankah metode dakwah yang baik adalah dengan bijak (hikmah) dan nasihat yang baik (mau’idzah hasanah)?! (An-Nahl [16]: 125).

Walaupun wacana prularitas agama menjadi kontroversial, namun apa salahnya jika kita memahaminya dari sudut pandang yang berbeda, sehingga bisa mengarahkan kita pada tujuan hidup itu sendiri, tanpa peduli dengan kontroversialitas sebuah masalah. Toh dengan sendirinya masalah yang terkadang membuat resah masyarakat itu akan hilang ditelan tanpa bekas.

 

Sebuah pengantar

Setelah sekiranya saya bisa menangkap dan memahami kandungan buku ini, ketika itu saya baru ingat bahwa ada bagian yang belum saya baca, dan hampir terlewat begitu saja, yaitu sebuah pengantar.

Pengantar buku ini ditulis oleh dua orang yang sangat saya kenal. Diantaranya adalah Ahmad Syafi’i Ma’arif, yang saya kenal di kolom Resonansi koran Republika, yang setiap tulisannya membuat saya tersentuh. Dan yang kedua adalah Abdurrahman Wahid, yang lebih dikenal dengan sebutan Gus Dur, seseorang yang selalu menggemakan dunia dari hanya sepatah katanya sekalipun. Kontroversial.

Dari sambutan kedua tokoh ini yang paling membuat saya terkesan adalah tulisan Gus Dur. Dengan gaya bahasa yang lugas dan lancar, pemaparannya ini membuat saya berdecak kagum atas kelihaiannya menceritakan rentetan sejarah. Mulai dari zaman orde lama hingga orde baru. Baik sejarah nasional maupun sejarah dunia. Di samping itu, banyak sekali buku-buku yang disebutkan tanpa terlewat memaparkan kandungan isinya, membuatnya pantas dijuluki sebagai kutu buku. Dan juga informasi-informasi lain yang saya dapatkan, yang berisi lebih dari sekedar sebuah pengantar buku. Di balik sisi negatif yang dibincangkan banyak orang, ternyata saya dapatkan nilai-nilai positif yang dilahirkannya. (Walaupun entah tulisan itu dibuatnya langsung, ataupun hanya tulisan seorang asisten yang mensarikan apa yang diperintahkan sang majikan. Saya nggak peduli, karena hal itu pasti bisa dipertanggungjawabkan).

Anyway, saya senang sekali bisa mengakhiri membaca buku ini dengan “happy ending”, berakhir dengan kesan yang paling menarik dari isi buku yang menarik. Yaitu sebuah pengantar dengan judul besar di sana: Benar-benar Pengantar. Judul besar ini seolah menunjukkan sebuah penegasan, sehingga justeru jadi bahan pertanyaan juga, kenapa?!

Pesan saya, jangan pernah meninggalkan baca tulisan pengantar ketika anda membaca buku, karena ilmu bukan hanya pada pertengahan pembahasan, tapi akan lebih memahamkan kita dengan membaca sebuah pengantar. Apalagi kalau justeru wejangan pengantar-lah yang membuat kita lebih berkesan membaca buku tersebut. Bagaimana dengan pengalaman anda?! [J]

Jakarta, 3 Februari 2009

Posted by: lingkaransmile | February 2, 2009

Burung dengan Sebelah Sayap

Burung dengan sebelah sayap

Oleh : Gede Prama

 

Seorang SAHABAT dengan potensi tinggi, mengeluh berat setelah pindah-pindah kerja di lebih dari lima tempat

Tadinya, saya fikir ia mencari penghasilan yang lebih tinggi.

Setelah mendengarkan dengan penuh empati, SAHABAT ini rupanya mengalami kesulitan dengan lingkungan kerja

Di semua tempat kerja sebelumnya, dia selalu bertemu dengan orang yang tidak cocok. Di sini tidak cocok dengan atasan, di situ bentrok dengan rekan sejawat, di tempat lain malah diprotes bawahan

Kalau SAHABAT di atas berhobi pindah-pindah kerja, seorang SAHABAT saya yang lain punya pengalaman yang lain lagi.

Setelah berganti istri sejumlah tiga  kali, dengan berbagai alasan yang berbau tidak cocok, ia kemudian merasa capek dengan kegiatan berganti-ganti pasangan ini.

Seorang pengusaha berhasil punya pengalaman lain lagi. Setiap kali menerima orang baru sebagai pimpinan puncak,  ia senantiasa semangat dan penuh optimis. Seolah-olah orang baru yang datang pasti bisa menyelesaikan semua masalah. Akan tetapi, begitu orang baru ini berumur kerja lebih dari satu tahun, maka mulailah kelihatan busuk-busuknya. Dan ia pun mulai capek dengan kegiatan berganti-ganti pimpinan puncak ini Digabung menjadi satu,

seluruh cerita ini menunjukkan bahwa kalau motif kita  mencari pasangan – entah pasangan hidup maupun pasangan kerja

adalah mencari orang yang cocok di semua bidang,

sebaiknya dilupakan saja.

Bercermin dari semua inilah, maka sering kali saya ungkapkan di depan lebih dari ratusan forum,

bahwa fundamen paling dasar dari manajemen sumber daya manusia adalah  :
manajemen perbedaan

Yang mencakup dua hal mendasar : menerima perbedaan dan mentransformasikan perbedaan sebagai kekayaan.

Sayangnya,

kendati idenya sederhana, namun implementasinya memerlukan  upaya yang tidak kecil

Ini bisa terjadi, karena tidak sedikit dari kita yang menganggap diri seperti burung yang bersayap lengkap.

Bisa terbang (baca : hidup dan bekerja ) sendiri tanpa ketergantungan pada orang lain.

Padahal,

meminjam apa yang pernah ditulis Luciano de Crescendo,

kita semua sebenarnya lebih mirip dengan burung yang bersayap sebelah

Dan hanya bisa terbang kalau mau berpelukan  erat-erat bersama orang lain.

Anda boleh berpendapat lain, namun pengalaman, pergaulan
dan bacaan  saya menunjukkan dukungan yang amat kuat terhadap pengandaian burung bersayap sebelah terakhir.

Di perusahaan, hampir tidak pernah saya bertemu pemimpin berhasil tanpa kemampuan bekerja sama  dengan orang lain.

Di keluarga, tidak pernah saya temukan keluarga bahagia tanpa kesediaan sengaja untuk ‘berpelukan’ dengan anggota keluarga yang lain.

Di tingkat pemimpin negara, orang sehebat Nelson Mandela dan Kim Dae Jung  bahkan mau ………berpelukan bersama orang yang dulu pernah menyiksanya

Lebih-lebih kalau kegiatan berpelukan ini dilakukan dengan penuh cinta.

Ia tidak saja merubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, mentransformasikan kegagalan menjadi keberhasilan, namun juga membuat semuanya  tampak indah dan menyenangkan

Makanya, penulis buku Chicken Soup For The Couple Soul mengemukakan, cinta adalah rahmat Tuhan yang terbesar

Demikian besarnya  makna dan dampak cinta, sampai-sampai ia tidak bisa dibandingkan dengan apapun.

Rugi besarlah manusia yang selama hidupnya tidak pernah mengenal cinta

Ia seperti pendaki gunung yang tidak pernah sampai di puncak gunung. Capek, lelah, penuh perjuangan namun sia-sia.

Ini semua, mendidik saya untuk hidup dengan pelukan cinta.
Di pagi hari ketika baru bangun dan membuka jendela, saya senantiasa berterimakasih akan  pagi yang indah. Dan mencari-cari lambang cinta yang bisa saya peluk. Entah itu pohon bonsai di halaman rumah, ikan koi di kolam, atau suara anak yang rajin menonton film kartun. Begitu keluar dari kamar tidur, akan indah sekali hidup ini rasanya kalau saya mencium anak, atau istri.
Melihat burung gereja yang memakan nasi yang sengaja diletakkam di pinggir kali , juga menghasilkan pelukan cinta tersendiri. Demikian juga dengan di kantor, godaan memang ada banyak sekali. Dari marah, stres, frustrasi, egois sampai dengan nafsu untuk memecat orang.

Demikian juga dengan di kantor, godaan memang ada banyak sekali. Dari marah, stres, frustrasi, egois sampai dengan nafsu untuk memecat orang.
Namun, begitu saya ingat karyawan dan karyawati bawah yang bekerja penuh ketulusan, dan menghitung jumlah perut yang tergantung pada kelangsungan hidup perusahaan, energi pelukan cinta entah datang dari mana.

Kembali ke pengandaian awal tentang burung dengan sebelah sayap.

Tuhan memang tidak pernah melahirkan manusia yang sempurna.

Kita selalu  lebih di sini  dan  kurang di situ.    Atau sebaliknya.  Kesombongan atau keyakinan berlebihan  yang menganggap kita bisa sukses sendiri tanpa bantuan orang lain, hanya akan membuat kita bernasib sama dengan burung  yang bersayap sebelah, namun memaksa diri untuk terbang.

Sepintar dan sehebat apapun kita, tetap kita hanya akan memiliki sebelah sayap

Mau belajar, berjuang, berdoa, bermeditasi atau sebesar dan sehebat apapun usaha kita, semuanya akan diakhiri dengan jumlah sayap yang hanya sebelah

Oleh karena alasan inilah, saya selalu ingat pesan seorang SAHABAT untuk memulai kehidupan setiap hari dengan pelukan.

Entah itu memeluk anak, memeluk istri, memeluk kehidupan, memeluk alam semesta, memeluk Tuhan atau di kantor memulai kerja dengan ‘memeluk’ orang lain.

 

Ok SAHABATS,

 

Have a day full of
SMILE, GOOD WORK,  SUCCESS & LOVE

 

Salam  SAHABAT,

ED

Posted by: lingkaransmile | February 2, 2009

Dulu Aku Seorang Putri

Dulu aku seorang putri

 

Dulu aku seorang putri

Jauh dari lakilaki

Tapi setelah ayah di PHK

Kini aku jadi PSK

 

Aku dibawa siapa saja

Aku dijamah dan dijaja

Semua dibayar dengan uang

Aku hancur bukan kepalang

 

Aku setengah gila

Aku terjebak dilema

Tak bekerja berarti melanggar titah orang tua

Tak bekerja berarti adik-adikku mati siasia

 

Mereka berkata,

Tak usahlah kau berlari

Tak usahlah sibuk mencari

Siasialah semua usaha

harga diri takkan pernah kembali

 

[banyak jalan menuju Roma, banyak usaha untuk bertahan hidup. Jika harga diri yang harus dikorbankan, jangan biarkan ia adalah perempuan . . !!]

Posted by: lingkaransmile | January 30, 2009

Pipiku Merona

pipiku merona

 

pipiku merah merona

rambut hitamkupun mewangi aroma

itu semua karena dia

yang membuatku sulit memejam mata

 

dia itu si raja cinta

yang bersemayam tanpa kuminta

hingga aku tergilagila

lupa duka lupa kacamata

 

aku tersipu dibuatnya

aku malu berkatakata

sampai aku terjebak latah

tuk katakan kujatuh cinta

 

Serua, duatujuhjanuariduaribusembilan

 

[buat hati yang masih terlarang tuk jatuh cinta, bersabarlah, karena indah kan datang tepat pada saatnya tiba. Tapi jangan terlena menunggu waktu, karena aksi kitalah yang membuat waktu justeru menunggu.]

Posted by: lingkaransmile | January 29, 2009

perempuan jadi ulama? why not?!

Perempuan Jadi Ulama? why not?!

ulper2Salah satu alasan mengapa perempuan semakin terpuruk dalam dunia diskriminatif adalah budaya patriarki yang mengungkung mereka dalam ruang sempit pendidikan. Minimnya wawasan membuat perempuan semakin kehilangan kepercayaan publik. Hal ini mengakibatkan derajat mereka kian tak bersinar.

Budaya patriarki menganggap cukup bagi perempuan untuk berperan dalam ranah domestik saja, cukuplah laki-laki yang bisa diandalkan untuk menegakkan dakwah islam. Padahal Islam dan penyebarannya membutuhkan peran sumber daya manusia yang handal dan mumpuni tidak hanya dari kalangan lai-laki, tapi juga perempuan yang memiliki hak bahkan kewajiban untuk ikut serta di dalamnya (amar ma’ruf nahi munkar). Jika budaya patriarki dipatahkan dan kita gali sejumlah perempuan yang potensial, tidak menutup kemungkinan keberadaan mereka sanggup memberikan kontribusi yang sangat besar terutama ketika berada dalam kelompok mereka sendiri, tidak selamanya laki-laki bisa mengatasinya, terutama masalah yang berkaitan khusus dengan perempuan. Oleh karenanya menjadi sangat perlu melibatkan kaum perempuan di ranah keulamaan.

Salah satu upaya mewujudkan cita-cita tersebut adalah dengan pengembangan potensi perempuan dan juga pemberdayaan khusus hingga mereka mampu menjadi mitra yang setara dengan laki-laki dalam menjunjung tinggi kemaslahatan ummat di bawah naungan agama yang berkeadilan sosial, juga rahmat bagi semesta. Salah satu upaya tersebut adalah dengan mengikuti program Pengkaderan Ulama Perempuan.

Islam sendiri tidak menghalangi wanita untuk memasuki berbagai profesi sesuai keahliannya, asalkan dalam tugasnya tetap memperhatikan hukum-hukum dan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh syari’at. Apakah ia sebagai istri, ibu dari anak-anaknya, ataupun mereka yang belum terikat dengan ranah kekeluargaan diharapkan tetap memperhatikan peranan dan tanggungjawabnya sehingga tidak akan mendatangkan hal-hal negatif terhadap diri dan agama serta bangsanya. Dengan penegakan hak dan pemenuhan kewajiban yang seimbang, kehidupan yang dinamis akan tercipta dengan sendirinya.

Pada akhirnya semua yang bisa mendatangkan maslahat ummat senantiasa menjadi prioritas utama dalam islam dan didukung sepenuhnya sebagai wujud kepedulian sosial berlandaskan kepatuhan terhadap pencipta untuk senantiasa beribadah tidak hanya dilafalkan, tapi juga diimplementasikan dalam kehidupan. Wallahu a’lam. []

Posted by: lingkaransmile | January 27, 2009

Hati yang Berkarat

hati yang berkarat

 

ada jerawat di balik hati yang berkarat

ada yang terlewat saat semua menjadi berat

senyum sekarat melangkahi jiwa jiwa yang gawat

membuat anganangan menjamur berulat

 

garang bercampur senang

lambat laun semua terulang

hanya pena berperang pedang

menghindar gelar sebagai pecundang

 

semua adalah logika melawan jiwa

untuk sebuah makna yang selalu tertunda

 

Serua, duatujuhjanuariduaribusembilan

 

[cinta adalah masalah penting bagi manusia. Bila kita mampu mengurai cinta, maka hakikat cinta akan berubah menjadi sesuatu, itulah kenyataan cinta. Cinta memang tidak mudah untuk dimengerti. Buat jomblowers yang selalu tertunda dan terlambat jatuh cinta; cinta adalah hak semesta, mencintai adalah sebuah kewajiban, jadikanlah sebuah kebutuhan, kelak kau dapatkan apa yang nggak pernah kau duga; cinta tanpa jeda.]

Posted by: lingkaransmile | January 11, 2009

lambang imaji nan arif

lambang imaji nan arif

menggugah masa

mengguncang jiwa raga,

dari sebuah titik yang terdetik

kau tuangkan anyaman kata

begitu cantik

mengalir alur

untuk seorang figur

walau kelak tak nampak begitu tersibak

dalam kurun waktu yang kian berdetak

dalam mangu

tertulis sebuah nama,

perlambang imaji nan arif;

lambaikan sayap imaji

getarkan segala ilusi

untuk realita yang berarti

Cirebon,

Sebelas Januari DuaribuSembilan

[untuk sebuah nama yang tertulis, kembangkan sayap untuk segala inspirasimu. Ini bukan sulaman kata, tapi sekedar ucap kata; terima kasih]

Older Posts »

Categories